Rabu, 03 Oktober 2012

Ada yang Memperhatikan Kita


Ada Yang Memperhatikan Kita


Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dengan tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus. Dengan tangannya yang lain dia meraba posisi di mana sopir berada, dan membayar ongkos bus.Lalu berjalan ke dalam bus mencari-cari bangku yang kosong dengan tangannya. Setelah yakin bangku yang dirabanya kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya di atas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat.

Satu tahun sudah, Yasmin, wanita muda itu, mengalami buta. Suatu kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya. Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna. Dia adalah wanita yang penuh dengan ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun di lingkungannya. Tiba tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya.

Hilang sudah masa depan yang selama ini dicita- citakan. Merasa tak berguna dan tak ada seorangpun yang sanggup menolongnya selalu membisiki hatinya.

“Bagaimana ini bisa terjadi padaku?” dia menangis.

Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdo’a dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali. Di antara frustrasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yg begitu penyayang dan setia, Burhan.

Burhan adalah seorang prajurit TNI biasa yg bekerja sebagai security di sebuah perusahaan. Dia mencintai Yasmin dengan seluruh hatinya. Ketika mengetahui Yasmin kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Yasmin tenggelam ke dalam jurang keputus-asaan. Burhan ingin menolong mengembalikan rasa percaya diri Yasmin, seperti ketika Yasmin belum menjadi buta. Burhan tahu, ini adalah perjuangan yg tidak gampang. Butuh extra waktu dan kesabaran yg tidak sedikit. Karena buta, Yasmin tidak bisa terus bekerja di perusahaannya. Dia berhenti dg terhormat.

Burhan mendorongnya supaya belajar huruf Braile. Dengan harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan. Tapi bagaimana Yasmin bisa belajar? Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja selalu diantar Burhan? Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan. Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan sendirian? Pulang-pergi sendirian? Siapa yang akan melindunginya ketika sendirian? Begitulah yg berkecamuk di dalam hati Yasmin yang putus asa.

 Tapi Burhan membimbing jiwa Yasmin yang sedang frustasi dg sabar. Dia merelakan dirinya untuk mengantar Yasmin ke sekolah, di mana Yasmin musti belajar huruf Braile. Dengan sabar Burhan menuntun Yasmin menaiki bus kota menuju sekolah yang dituju. Dengan susah payah dan tertatih- tatih Yasmin melangkah bersama tongkatnya. Sementara Burhan berada di sampingnya. Selesai mengantar Yasmin dia menuju tempat dinas. Begitulah, selama berhari- hari dan berminggu- minggu Burhan mengantar dan menjemput Yasmin. Lengkap dengan seragam dinas security.

Tapi lama-kelamaan Burhan sadar, tak mungkin selamanya Yasmin harus diantar; pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Yasmin harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yang harus dijalaninya. Dengan hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Yasmin tak tersinggung dan merasa dibuang. Sebab Yasmin, bagaimanapun juga masih terpukul dengan musibah yang dialaminya. Seperti yang diramalkan Burhan, Yasmin histeris mendengar itu. Dia merasa dirinya kini benar- benar telah tercampakkan.

“Saya buta, tak bisa melihat!”  teriak Yasmin.
“Bagaimana saya bisa tahu saya ada dimana? Kamu telah benar-benar meninggalkan saya.”

Burhan hancur hatinya mendengar itu. Tapi dia sadar apa yang musti dilakukan. Mau tak mau Yasmin musti terima. Musti mau menjadi wanita yang mandiri. Burhan tak melepas begitu saja Yasmin. Setiap pagi, dia mengantar Yasmin menuju halte bus. Dan setelah dua minggu, Yasmin akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dengan tongkatnya. Burhan menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di manapun dia berada. Setelah dirasanya yakin bahwa Yasmin bisa pergi sendiri, dengan tenang Burhan pergi ke tempat dinas. Sementara Yasmin merasa bersyukur bahwa selama ini dia mempunyai suami yang begitu setia dan sabar membimbingnya.

Memang tak mungkin bagi Burhan untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi. Tak mungkin juga selalu diantar ke tempatnya belajar, sebab Burhan juga punya pekerjaan yang harus dilakoni. Dan dia adalah wanita yg dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan
dan wanita yang tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Yasmin yang dulu, yang tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar.

Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Yasmin menjalani rutinitasnya belajar, dengan mengendarai bus kota sendirian. Suatu hari, ketika dia hendak turun dari bus,

Sopir bus berkata, “saya sungguh iri padamu”.
Yasmin tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya. “Anda bicara pada saya?”
” Ya”, jawab sopir bus. “Saya benar-benar iri padamu”.

Yasmin kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di duniaini, seorang buta, wanita buta, yang berjalan terseok-seok dengan tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri?

“Apa maksud anda?” Yasmin bertanya penuh keheranan pada sopir itu.
“Kamu tahu,” jawab sopir bus, “Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dengan seragam militer selalu berdiri di seberang jalan. Dia memperhatikanmu dengan harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyeberang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari situ. Kamu sungguh wanita beruntung, ada yang memperhatikan dan melindungimu”.



Air mata bahagia mengalir di pipi Yasmin. Walaupun dia tidak melihat orang tersebut, dia yakin dan merasakan kehadiran Burhan di sana. Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Burhan telah memberinya sesuatu yang lebih berharga dari penglihatan. Sebuah pemberian yang tak perlu untuk dilihat; kasih sayang yang membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.


Menunggu Elang Pulang


Menunggu Elang Pulang




H
 ujan selalu saja mengingatkan Raras pada Elang. Elang suka hujan. Katanya   hujan itu salah satu anugerah Tuhan yang paling indah. Merenung di saat hujan, bisa membuat hati tenteram dan damai.  "Itu kalau perut kenyang. Jika sedang lapar, hujan justru membuat hati semakin miris." 

Mengenai hujan, mereka memang berbeda pendapat. Bagi Raras hujan itu malapetaka. Ia akan jatuh demam bila terkena hujan sedikit saja. Hingga ia harus terkurung di rumah tanpa bisa ke mana-mana.  Raras menghela napas. Di luar hujan masih deras. Matanya menatap lurus pada ribuan jarum hujan yang turun. Dicobanya mencari suatu makna pada hujan tersebut. Yang membayang justru wajah Elang. Elang seakan menatapnya dengan lembut. Lengkap dengan senyumnya yang sanggup membuat hati Raras bergetar hebat. 

“Elang, di mana kamu sekarang?”  Hampir tiga tahun sudah Elang pergi. Ini tahun ke dua cowok itu tidak lagi pernah memberi kabar. Raras masih ingat, tiga tahun yang lalu Elang berjalan lambat di bawah hujan untuk pamit padanya. Saat itu Raras tengah termangu di depan jendela kamar. Dari jauh ia sudah melihat Elang berjalan lambat di tengah hujan, dengan ransel besar di punggung. Dari loteng, segera Raras turun ke bawah. 

"Ada apa, Lang?" tanya Raras khawatir sambil mengangsurkan sebuah handuk kering pada Elang yang terlihat kedinginan. 
"Aku mau pergi." 
"Ke mana?" 
"Jogja." 
"Buat apa kamu ke sana?" 
"Mengembangkan bakat melukisku." 
"Lantas kuliahmu?" 
"Terpaksa kutinggal." 
"Bertahanlah!" 
"Aku tak bisa, Ras! Ke dua 'anjing' sialan itu semakin menjadi-jadi. Bodohnya Papa selalu menurut apa kata mereka. Hingga Papa tega mengusirku dari rumah." 

Raras menatap iba, ia mengerti isi hati Elang. Elang memang sangat membenci kedua wanita yang menjadi mama tiri dan adik tirinya itu. 
"Lalu bagaimana dengan aku?" cetus Raras pelan
Elang tersenyum sambil menatap lembut. "Aku memang pergi jauh. Tapi hatiku tetap tinggal di sini, bersamamu." 
"Tapi Lang...." 
"Percaya padaku, Ras!" potong Elang cepat. 
Raras membisu. 
"Aku pergi." 
"Di luar masih hujan." 
"Aku tak ingin berlama-lama di sini. Di dekatmu, aku takut keputusanku untuk pergi menjadi goyah." 
"Bukankah itu lebih baik?" 

Akhirnya Elang pergi. Raras tahu apa pun tak bisa mengubah keputusan Elang. 
Elang datang dengan menerobos hujan. Pergi juga ia masih menerobos hujan. Raras menatap tubuh jangkung itu menjauh, sampai menghilang di tikungan jalan depan rumahnya. 

Sebulan kepergian Elang, tak terhitung berapa kali ia menelepon Raras. Memasuki bulan kedua, intensitasnya mulai berkurang. Katanya tak sanggup dengan biaya interlokal. Raras usul gantian menelepon, tapi kata Elang tak ada nomor yang bisa dihubungi, karena selama ini Elang menelepon dari wartel. 

Bulan ketiga dan seterusnya mereka berhubungan melalui email. Walau sesekali elang menelepon karena rindu mendengar suara Raras. 

Di Jogja aku harus hidup hemat, penghasilanku sebagai pelukis pemula sangat kecil. Belum lagi saingan yang sangat banyak. Terkadang sebuah lukisanku hanya laku terjual limapuluh ribu rupiah. Tapi aku bersyukur pada Tuhan, masih bisa hidup dan makan, tulis Elang pada sebuah email. 

Raras rutin membalas. Setiap emailnya selalu berisi pemompa semangat Elang. Ia ingin Elang berhasil menggapai impiannya. Ia tak mau perhatian Elang bercabang antara karir dan dirinya, hingga Raras memutuskan untuk merahasiakan penyakitnya dari Elang.  Sepuluh bulan kepergian Elang, surat-surat yang dikirim Raras kembali dengan alasan pindah alamat. Email yang terkirim tak pernah berbalas. Memasuki bulan ke duabelas sebuah kartu pos datang padanya. 

Sekarang aku di Belanda. Kuputuskan untuk menjadi pelaut saja. Kebetulan ada kenalan temanku di Jogja yang kerja di kapal dan butuh awak baru. Doakan aku, Ras, agar suatu hari nanti kapalku berlabuh di Belawan. 
Itu satu-satunya kartu pos yang terkirim dari Elang. Dua tahun sudah. Dan Raras selalu berdoa dan menunggu, agar Elang datang padanya. Sekali saja. *** 

 Selain hujan, Elang juga suka laut. Berjam-jam Elang sanggup berdiri di tepi laut. Menatap jauh ke depan. Mengagumi laut yang seolah tak berbatas.  Sering Elang mengajaknya, tapi Raras kebanyakan menolak. Ia kapok menemani Elang menatap laut. Membosankan dan membuat kaki jadi pegal. 

"Apa indahnya dari laut ini?" Raras mengomel begitu.
Sudah lebih dua jam mereka hanya berdiri dan duduk menatap laut. Tapi Elang belum juga mau pulang. 
"Banyak, Raras. Bayangkan kalau kamu bisa terbang di atas air laut itu. Tentu sangat indah dan menyenangkan." 
"Kalau begitu, seharusnya kamu terlahir sebagai burung saja." 

Setelah Elang pergi, Raras jadi suka pergi ke tepi laut. Sendirian. Seperti sore ini, Raras tengah menatap lurus ke depan, lalu beralih ke angkasa biru. Begitu indah. Langit berwarna cerah. Burung-burung terbang bebas di atas air laut. 

Gadis itu menghela napas berat. Wajahnya masih mendongak. Mungkinkah saat ini Elang juga tengah menatap birunya laut dari daratan yang lain seperti dirinya? Apakah saat ini Elang juga tengah memikirkan dirinya dan merasa rindu yang seakan tak tertahan lagi? Atau justru Elang telah lupa pada Raras, karena baginya Raras hanyalah bagian masa lalu yang berarti apa-apa? 

Kembali Raras menghela napas panjang. Kemarin Raras mengunjungi Dokter Heru. Tidak seperti biasanya, kali itu Dokter Heru menjabat erat tangannya ketika mengantar Raras keluar. Ucapan terakhir dokter itu telah mengisyaratkan hal buruk buatnya. 

"Banyak-banyaklah berdoa, Raras. Semoga Tuhan mendengar segala permintaanmu itu." 
Wajah Raras berubah pucat. "Apakah ini artinya...." 
Dokter Heru tersenyum arif. "Tak ada yang perlu kau cemaskan. Karena pada dasarnya kita harus berserah kepada Tuhan, bukan?" 

Dadanya terasa sesak. Sampai sekarang ini dalam hati kecilnya, Raras selalu bertanya mengapa semua ini harus terjadi padanya. Leukimia bukan penyakit main-main. Ia belum mau mati sebelum bertemu Elang untuk terakhir kalinya. 
Raras terlongo. Dikuceknya kedua mata, untuk memastikan bahwa ini bukan hanya halusinasi. Tapi senyum makhluk yang berdiri di depannya justru pecah menjadi tawa. 
"Elang?!" 
Elang mengangkat bahu dan tersenyum lebar. "Daya ingatmu hebat juga. Padahal aku telah jauh berubah." 
"Mana mungkin aku bisa melupakanmu." 
Elang maju setindak demi setindak. Susah payah Raras berusaha bangkit. Elang menahannya. 
"Berbaring saja. Biar cepat sembuh." 
Hangat Elang merangkum kedua tangannya. Kedua mata Raras memanas. Elang menatapnya lekat. 
"Aku pasti kelihatan sangat jelek. Rambutku sudah mulai menipis akibat kemoterapi." 
"Di mataku kau tetap gadis yang tercantik." 
"Kemana saja selama ini?" 
"Mengembara. Mencoba hidup dan mencari jatidiri." 
"Kamu seperti menghilang ditelan bumi. Padahal aku selalu mengharap surat atau dering telepon darimu." 
"Sangat ingin, Ras! Tapi aku tak mau mengganggumu." 
Mata Raras mendelik. 
"Aku merindukanmu, Ras! Makanya aku pulang." 
"Setelah melihatku begini, kamu pasti kecewa." 
Elang menggeleng. Ia rapikan anak-anak rambut Raras yang berantakan di sekitar dahi dan pipinya.. Raras memejam mata. 

"Kamu harus cepat sembuh. Biar bisa menemaniku jalan-jalan, menatap hujan dan laut. Mau ya, Ras?!" 
"Kata dokter umurku...." 
"Tahu apa dokter itu. Dia bukan Tuhan yang bisa menentukan umur manusia sesuka hatinya." 

Hidup adalah perjalanan yang akan berujung di suatu masa. Bersama Elang di sampingya, Raras yakin perjalanannya masih sangat panjang. Bukankah semangat dan keyakinan untuk hidup jauh lebih manjur dari segala pil-pil yang ditelannya selama ini?